Detail Cantuman Kembali
Studi Penggunaan Obat Pada Pasien Kanker Payudara (Penelitian Di RS RNI-AL Dr. Ramelan Surabaya)
Kanker payudara merupakan penyakit kanker yang paling sering terjadi pada wanita, di Indonesia menempati urutan kedua setelah kanker rahim. Penyebab kanker payudara belum diketahui pasti namun banyak faktor resiko yang memodulasi berkembangnya kanker payudara dan juga faktor hormonal. Cara pengobatan kanker payudara dapat berupa pembedahan, radiasi, kemoterapi, terapi endokrin, dan terapi biologi. Penggunaan kemoterapi beserta pembedahan dapat meningkatkan angka penyembuhan. Namun penggunaan kemoterapi menimbulkan efek samping seperti alopesia, mual dan muntah, reaksi hipersensitivitas, mielosupresi serta gangguan fertilitas. Oleh karena itu, perlu diketahui bagaimana pola penggunaan obat (meliputi jenis obat dan kombinasinya, dosis, rute, frekuensi) serta DRP (Drug Related Problem) yang terjadi pada kasus ini.
Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pola penggunaan obat pada pasien kanker payudara dan mengidentifikasi adanya DRP yang mungkin terjadi. Penelitian dilakukan secara retrospektif di RS TNI AL Dr. Ramelan dengan menggunakan RMK pasien kanker payudara yang menjalani rawat inap pada periode 1 Januari sampai 31 Desember 2007 dan didapatkan 28 pasien wanita yang memenuhi kriteria inklusi.
Hasil penelitian menunjukkan jenis kemoterapi yang paling banyak digunakan adalah kombinasi cyclophosphamide-epirubicin-fluorouracil (CEF) yang merupakan first line therapy pada 18 pasien (64,2%), sedangkan untuk second line therapy digunakan kombinasi paclitaxel dengan epirubicin. Semua kemoterapi diberikan dengan rute intravena. Selain kemoterapi, 19 pasien (67,8%) juga mendapat terapi tamoxifen. Sedangkan terapi lain sebagai profilaksis efek samping kemoterapi adalah antiemetika (deksametason, metoklopramid, ranitidin, simetidin, ondansetron) untuk mual dan muntah, difenhidramin untuk alergi atau hipersensitivitas, preparat besi untuk anemia dan vitamin B 1, B6, B 12. Outcome terapi pada pasien diketahui dari survival rate yaitu 2 tahun (1 pasien), 4 tahun (2 pasien), dan 6 tahun (1 pasien). Masalah terkait obat (Drug Related Problem/DRP) yang muncul adalah efek samping yaitu mual dan anemia masing¬masing pada 3 pasien (10,7%). Interaksi obat yang potensial terjadi adalah kortikosteroid dengan methotrexate / NSAID / diuretik / ACE inhibitor / OAD / teofilin ; simetidin dengan cyclophosphamide / epirubicin / fluorouracil.
Dari penelitian ini disarankan perlu dilakukan konseling kepada pasien terkait adanya DRP yaitu efek samping yang sering terjadi akibat pemberian sitostatika. Sebaiknya digunakan lembar MESO dalam melakukan pemantauan terhadap efek samping obat agar efek samping obat yang terjadi tercatat dengan lengkap dan dapat segera teridentifikasi serta diberikan solusinya secara cepat dan tepat.
Okwinsa, Libawa Tulan - Personal Name
6B.S Okw s
6B.S Okw s
Text
Indonesia
Fakultas Farmasi UNAIR
2008
Surabaya
xv, 97p.; 30cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...







